BUSANA ADAT MINANGKABAU MENURUT PERSPEKTIF RANTAU. Oleh: Herlina Hasan Basri

Minangkabau memiliki beragam budaya dan adat sendiri2 yang dimiliki oleh tiap2 nagari,yang biasa disebut adat salingka nagari,salah satunya adalah pakaian adat yang khas dan unik. Pakaian adat tersebut merupakan salah satu warisan yang dimiliki setiap daerah yang ada di Minangkabau. Pakaian tersebut menjadikan ciri khas dari daerah masing-masing dengan filosofi Adaik Basandi Syara’,Syara’ Basandi Kitabullah. Ungkapan ini menegaskan bahwa setiap orang berdarah minang adalah muslim yang taat dan patuh kepada Al-Qur’an dan kepada Allah SWT. Disamping semua itu Minangkabau dikenal dengan keelokan bahasa, pakaian, adat-istiadat dan ditambah dengan bentang alam nun hijau sejauh mata memandang.
Pakaian adat tersebut mengandung makna dan arti tertentu. Setiap daerah di Minangkabau memiliki pakaian adat yang berbeda-beda. Sehingga Jenis pakaian adat minangkabau memiliki arti dan makna yang sangat sakral dan menjadi kepercayaan bagi masyarakat sekitar.Namun pada prinsipnya walaupun mempunyai jenis yang berbeda2 tetapi tetap satu makna,yaitu pakaian merupakan alat penutup aurat sesuai dengan aturan dalam agama Islam.
Pakaian adat minangkabau terbagi dalam dua jenis yaitu,
Pakaian Adat Penghulu dan juga pakaian adat Bundo Kanduang.
Pakaian Adat Panghulu ini terdiri dari destar atau saluak batimba, merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain batik dan bagian depan dibentuk kerutan. Ini mengandung makna tentang aturan hidup dari masyarakat Minangkabau.
Selanjutnya baju hitam lungga, dengan lengan yang longgar dan lebar. Pada bagian leher baju tidak berkatuk dan tidak memakai kancing sampai dada,maknanya bentuk keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin.
Celana hitam lebar,yang melambangkan kesiagaan.
Sesampiang, kain sandang,dari sarung bugis, keris dan tongkat,mengandung arti, tanggungjawab, kebesaran, keberanian, keputusan yang bijak.
Jenis pakaian adat minangkabau ini digunakan oleh laki-laki yang memiliki gelar Datuak.
Sedangkan untuk pakaian wanita Minangkabau pada umumnya memakai baju kurung Basiba. Baju Kuruang adalah baju yang dipakai oleh Gadih Minang dan Bundo Kanduang dimasa lalu.“Basiba” berasal dari tiga tanda jahitan yang berawal dari ujung ketiak wanita yang diberi pita yang sewarna dengan baju dan ditambah lipatan yang indah pada rok sebagai bagian dari pasangan baju itu. Inilah yang menampah keelokan wanita minangkabau.
Pakaian adat Bundo Kandung terdiri dari :
tengkuluk atau penutup kepala seperti tanduak, dengan bentuk runcing di kedua ujungnya ada rumbaian ameh.Ini berarti bahwa Bundo Kandung sebagai pemilik rumah gadang dan tidak boleh menjunjung beban yang sangat berat.
Baju kuruang basiba atau baju batabue ,biasanya berwarna merah, biru hitam dengan taburan banang ameh, Ini melambangkan kekayaan daerah Minangkabau.
Kain selempang, kain sarung dan perhiasan,yang berarti harus melanjutkan keturunan, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tidak boleh menginginkan sesuatu secara berlebihan.
Pakaian Bundo Kandung hanya digunakan oleh perempuan yang arif bijaksana atau oleh perempuan yang sangat dihormati oleh kaumnya.
Bagaimana pada hari ini?
Hari ini baju kuruang basiba mulai luntur hilang ditinggalkan oleh masyarakat minangkabau karna ditelan kemajuan zaman, ditambah oleh kurangnya kesadaran dari berbagai pihak untuk berusaha melestarikannya, kalaupun ada maka tidak banyak yang berusaha melestarikannya. Orientasi sekarang cendrung mengikuti budaya luar yang sangat timpang dengan budaya minangkabau.
Sejatinya setiap perempuan minang itu memakai pakaian yang menutup aurat tetapi yang terjadi hari ini adalah sebaliknya pakaian ketat ,rambut yang terurai sehingga mengundang hawa nafsu orang yang melihatnya,atau berhijab tetapi dengan pakaian memperlihatkan bentuk tubuh dan bercelana jeans ketat,atau celana zaman now yg kini dikenal dengan laging (ketat dan dg bahan yg tipis) sungguh menyedihkan bagi minangkabau sendiri.
Ditambah lagi dengan disigner2 kini yg tidak lagi memaknai arti pakaian adat itu sendiri,mereka dengan sesuka hatinya memodifikasi pakaian adat Minangkabau dengan menampilkan pakaian pengantin Minangkabau yang memakai suntiang,akan tetapi dengan bajunya yang mempunyai belahan didada yang sangat rendah,belahan dipaha yang sangat tinggi,dan ini juga dipakai oleh gadih2 Minang sebagai pakaian mereka diacara pernikahan yang sangat sakral dan dengan upacara adat Minangkabau,hilang sudah arti Adaik Basandi Syara’,Sayara’ Basandi Kitabullah yang selama ini dipegang teguh oleh nenek moyang kita.
Esensi “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” itu sudah hilang bersih diterpa angin. Supaya hal ini tidak terus berkelanjutan diperlukan kesadaran pada diri sendiri untuk terus melestarikan setiap aspek dari kebudayaan. Yang berlalu biarkan berlalu, memang benar tapi apakah akan terus berkelanjutan seperti ini ? tidakkah ada pelajaran yang dapat dipetik, bukankah hal yang sudah terjadi harus dipahami dan dimaknai secara mendalam? Bagaimana adat dan tradisi yg sangat Islami ini nantinya bagi generasi selanjutnya setelah kita tiada?
Sebagai wanita Minang yang lahir dan besar dirantau namun dididik dengan budaya Minangkabau yang masih kental rasanya ini sangat menyedihkan,karna itulah saya ingin menghimbau kepada masyarakat Minangkabau,baik yang ada dirantau,terutama yang ada diranah,untuk mengembalikan identitas diri wanita Minangkabau yang sesungguhnya,yang anggun dan sangat berkepribadian Islami untuk kembali kepada fitrahnya sebagai wanita minang/calon Bundo Kanduang yang sangat dijunjung tinggi harkat dan martabatnya oleh suku/kaumnya .
Sebagai urang rantau untuk permasalahan ini saya melihat dari sudut pandang yg berbeda2.
1. aspek sosiologis,
Pakaian adat tidak lagi menjadi minat anak2 muda minang dalam keseharian,mereka berbusana muslim tapi tidak memakai busana adat seperti baju kurung.
2.Aspek psikologis
Anak2 muda kita malu untuk berbusana tadisional,mereka merasa ketinggalan jaman kalau harus berbusana daerah,untuk ini kita harus menumbuhkan rasa bangga kepada mereka bahwa busana kita tidak kalah trend nya dengan busana2 jaman now.
3.Aspek politis.
Karena dahsyatnya kemajuan jaman internet dan lajunya arus globalisasi maka tidak ada lagi yang bisa mencegah masuknya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan budaya kita,
Kita tidak akan lagi melihat anak2 muda berbaju kurung diranah,apalagi dirantau,maka secara politis adat budaya berbusana kita akan hilang tergerus oleh kemajuan tekhnologi.
Solusinya:
1.Himbauan melalui Organisasi2 Minang dan kelembagaan yang ada diranah atau di rantau.
Sebagai wanita minang yang hidup dirantau saya melihat begitu banyak organisasi Minang dan kelembagaan yang ada dirantau dan diranah,namun saya tidak melihat adanya aturan2 atau program mereka yang menyentuh masalah ini,saya hanya melihat suara2 minang hanya digunakan untuk kepentingan politik praktis,ekonomi,dan silaturahmi,walaupun didalamnya ada bidang adat dan budaya namun tidak menghiraukan untuk menumbuh kembangkan busana adat Minangkabau.Padahal seharusnya ini bisa menjadi ajang contoh dalam mengembangkan busana adat minangkabau yang bisa kita pakai pada even2 tertentu,misalnya dengan mewajibkan kepada para pengurus organisasi minang untuk memakai seragam dg bentuk busana adat minang atau baju kurung yg di permodern,atau disesuaikan dengan jaman namun dengan tidak meninggalkan keasliannya.
2.Melalui Instansi2 pemerintah daerah dan Seluruh Organisasi,lembaga adat,agar para pekerja wanita mulai memakai busana adat dihari2 tertentu, dulu di Sumbar diwajibkan setiap hari Jumat memakai baju kurung.
3.Melalui sistem pendidikan,yaitu mewajibkan kepada seluruh sekolah,sejak mulai TK sd universitas,serta para pendidiknya untuk berbusana adat dihari2 tertentu yang tentunya disesuikan dengan karakter jaman now.
4.Lebih sering mengadakan seminar2,pagelaran atau festival busana adat Minangkabau,mengadakan didaerah masing2 sesuai dengan busana daerah masing2 adat salingka nagari dan even2 diseluruh nusantara bahkan manca negara,melalui perwakilan2nya yang ada,untuk memperkenalkan busana adat kita.agar anak2 muda kita bisa melihat bahwa busana kita sudah mendunia,dan dengan sendirinya memotivasi mereka agar tidak malu lagi memakainya busana adat daerahnya.
5.Menghimbau pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran tersendiri dalam rangka melestarikan dan mengembangkan  busana adat ini.
Untuk melestarikan kebudayaan Pakaian adat perempuan Sumatera Barat belum lama ini Dinas Kebudayaan Sumatera Barat mengadakan Pendokumentasian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) angkatan ke dua yang difokuskan pada Pakaian Adat Perempuan Minang daerah yang ada di beberapa Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat dan acara pendokumentasian ini di buka langsung oleh Gubernur Sumatera Barat.
Pendokumentasian pakaian adat perempuan Minang ini diperagakan oleh istri2 Kepala Daerah selaku Penasehat Bundo Kanduang.Upaya ini sangatlah baik dalam rangka melestarikan budaya Minangkabau, yang akan diwariskan pada generasi mendatang dan juga diperkenalkan pada dunia internasional.
Namun apakah ini sudah cukup? Tentu saja tidak! Yang paling penting dilakukan oleh pemda dan lembaga2 adat atau ninik mamak adalah :
6.Melegalisasikan/meng hak patentkan busana adat minangkabau,karna seperti keterangan diatas banyak sekali busana2 minangkabau yg dimodernisasi dengan gaya yang tidak sesuai dengan ABS SBK,untuk ini harus dibuat kriteria tersendiri didalamnya,karna seperti kita tahu busana adat minangkabau mempunyai arti sendiri dimasing2 bagiannya,sehingga setiap perubahan yg dilakukan dalam memodifikasi harus sesuai dengan aturan2 yang ada,sehingga tidak ada lagi pelecehan atau modifikasi busana kita yg tidak sesuai dg ABS SBK.
Pada masa lalu orang Minang sangat terbuka dan jujur dg sesuatu yg datang dari luar, jika bagus di pakai jo mufakat, jika tidak di jo etongan. Begitu juga tentang pekaian, seperti pekaian penghulu, bahan saluak dari batiak itu asalnya dari Jawa, sarung bugis/bugih dari Makasar, karih/keris dari Jawa, sarawa lambuah dari Aceh / di sebut potongan Aceh. Kemudian di modifikasi menjadi pekaian Adat/ pekaian panghulu, terapi nama asalnya tetap di sebutkan,Seperti sarawa lambuak gunting Aceh, bugih makasar, dll.
Begitu juga tentang keyakinan, Belanda,Cina pernah tinggal, tetapi begitu Agama Islam yg datang lansung di terima di jadikan sandi Adat, maka yg lain itu hilang tampa bekas, tidak ada Minang Indo , tidak ado Minang Hindu , dan Minang Cina, yg ado hanyo Minangkabau yang beragama Tunggal yaitu agama Islam.
Seperti itulah yang kita harapkan dengan busana adat Minangkabau,sebanyak apapun mode dan corak busana yang ada dijaman kini,yang datang dari luar tidak akan merubah busana adat kita yang memang sudah indah,cantik dan anggun serta mempunyai arti yang sangat dalam,bak pepatah minang,adat yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Sebagai wanita minang yang lahir dan besar dirantau,saya berharap busana adat kita akan selalu dipakai dan dipertahankan sebagai busana wanita muslim yang berasaskan Adaik basandi Syara’,Syara’ Basandi Kitabullah,Syara’ Mangato Adaik Mamakai.
Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau.
wassalam,
Herlina Hasan Basri
By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.